Bismillahir Rokhmanir Rohim

 

 

 

 

 

 

              

 

Saturday, April 17, 2004
Qalbu Mengeras Karena Jauh Dari Allah

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Innal-hamda LILLAH, ash-sholaatu wassalaamu 'ala Rosuulillah saw,
tsummas-salaamu 'alaa ashhaabihi wa man tabi'ahu bi ihsaanin ilaa
yaumid-diin

=============================
Qalbu Mengeras Karena Jauh Dari Allah
=============================

Allah subhanahu wa ta'ala berfirman (yang artinya) :
"Maka celakalah bagi mereka yang keras qalbunya dari berdzikir kepada Allah.
Mereka berada dalam kesesatan yang nyata." (Az-Zumar:22)

Tidaklah Allah memberikan hukuman yang lebih besar kepada seorang hamba
selain dari kerasnya qalbu dan jauhnya dari Allah subhanahu wa ta'ala.
An-Naar (neraka) adalah diciptakan untuk melunakkan qalbu yang keras. Qalbu
yang paling jauh dari Allah adalah qalbu yang keras, dan jika qalbu sudah
keras mata pun terasa gersang. Qalbu yang keras ditimbulkan oleh empat hal
yang dilakukan melebihi kebutuhan: makan, tidur, bicara, dan pergaulan.

Sebagaimana jasmani jika dalam keadaan sakit tidak akan bermanfaat baginya
makanan dan minuman, demikian pula qalbu jika terjangkiti penyakit-penyakit
hawa nafsu dan keinginan-keinginan jiwa, maka tidak akan mempan padanya
nasehat.

Barangsiapa hendak mensucikan qalbunya maka ia harus mengutamakan Allah
dibanding keinginan dan nafsu jiwanya.

Karena qalbu yang tergantung dengan hawa nafsu akan tertutup dari Allah
subhanahu wa ta'ala, sekadar tergantungnya jiwa dengan hawa nafsunya.

Banyak orang menyibukkan qalbu dengan gemerlapnya dunia. Seandainya mereka
sibukkan dengan mengingat Allah subhanahu wa ta'ala dan negeri akhirat tentu
qalbunya akan berkelana mengarungi makna-makna Kalamullah dan ayat-ayat-Nya
yang nampak ini, dan ia pun akan menuai hikmah-hikmah yang langka dan
faedah-faedah yang indah. Jika qalbu disuapi dengan berdzikir dan disirami
dengan berfikir serta dibersihkan dari kerusakan, ia pasti akan melihat
keajaiban dan diilhami hikmah.

Tidak setiap orang yang berhias dengan ilmu dan hikmah serta memeganginya
akan masuk dalam golongannya. Kecuali jika mereka menghidupkan qalbu dan
mematikan hawa nafsunya.

Adapun mereka yang membunuh qalbunya dengan menghidupkan hawa nafsunya, maka
tak akan muncul hikmah dari lisannya.

Rapuhnya qalbu adalah karena lalai dan merasa aman, sedang makmurnya qalbu
karena takut kepada Allah subhanahu wa ta'ala dan dzikir. Maka jika sebuah
qalbu merasa zuhud dari hidangan-hidangan dunia, dia akan duduk menghadap
hidangan-hidangan akhirat. Sebaliknya jika ia ridha dengan hidangan-hidangan
dunia, ia akan terlewatkan dari hidangan akhirat.

Kerinduan bertemu Allah subhanahu wa ta'ala adalah angin semilir yang
menerpa qalbu, membuatnya sejuk dengan menjauhi gemerlapnya dunia. Siapapun
yang menempatkan qalbunya disisi Rabb-nya, ia akan merasa tenang dan
tentram. Dan siapapun yang melepaskan qalbunya di antara manusia, ia akan
semakin gundah gulana.

Ingatlah! Kecintaan terhadap Allah tidaklah akan masuk ke dalam qalbu yang
mencintai dunia kecuali seperti masuknya unta ke lubang jarum (sesuatu yang
sangat mustahil).

Jika Allah subhanahu wa ta'ala cinta kepada seorang hamba, maka Allah
subhanahu wa ta'ala akan memilih dia untuk diri-Nya sebagai tempat pemberian
nikmat-nikmat-Nya, dan Ia akan memilihnya di antara hamba-hamba-Nya,
sehingga hamba itu pun akan menyibukkan harapannya hanya kepada Allah.
Lisannya senantiasa basah dengan berdzikir kepada-Nya, anggota badannya
selalu dipakai untuk berkhidmat kepada-Nya.

Qalbu bisa sakit sebagaimana sakitnya jasmani, dan kesembuhannya adalah
dengan bertaubat. Qalbu pun bisa berkarat sebagaimana cermin, dan
cemerlangnya adalah dengan berdzikir. Qalbu bisa pula telanjang sebagaimana
badan, dan pakaian keindahannya adalah taqwa. Qalbu pun bisa lapar dan
dahaga sebagaimana badan, maka makanan dan minumannya adalah mengenal Allah
subhanahu wa ta'ala, cinta, tawakkal, bertaubat dan berkhidmat untuk-Nya.

(diterjemahkan dan diringkas dari kitab Al-Fawaid karya Ibnul Qayyim
rahimahullah hal 111-112)

Kamis, 14 Agustus 2003 - 06:17:50, Penulis : Al-Ustadz Qomar Suaidi, Lc
http://www.asysyariah.com/syariah.php?menu=detil&id_online=104


Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Posted at 02:19 am by djito
Make a comment

Friday, April 16, 2004
Renungan Penyesalan

“Penyesalan selalu datang terlambat”, kata-kata ini seakan sudah menjadi hukum yang disepakati bersama. Jarang sekali pendapat “sesal dulu pendapatan, sesal kemudian tak berguna” bisa diejawantahkan. Hal ini bisa terjadi karena kita belum bisa menyeimbangkan tiga perangkat penting yang dianugerahkan Allah kepada kita : akal, perasaan dan kecerdasan spiritual. Tiga komponen ini adalah satu kesatuan yang tak mungkin dipisahkan.

Sulit sekali memang ketika dihadapkan pada sebuah permasalahan atau pilihan, kita “bertanya” dengan apik kepada ketiga komponen yang kita miliki tersebut. Terkadang, perasaan lebih dominan hingga akal terkalahkan. Jadilah keputusan yang dibuat jauh dari cara pandang secara umum. Atau sebaliknya, akal lebih menguasai hingga kita jadi seorang makhluk yang tak punya rasa empati. Lebih parah lagi ketika kita sama sekali tidak melirik pada kecerdasan spiritual yang kita punyai, dan kitapun tidak terlalu cerdas untuk yang satu ini.

Maafkan saya sahabat. Penyesalan menjadi penting untuk dibahas, karena kecerobohon demi kecorobohan yang saya lakukan akhir-akhir ini. Spiritual yang tak terasah telah membuat saya melaju menjadi seorang hamba yang sombong, mengabaikan sunatullaah, kehilangan rasa empati dan sering mengeluh. Pertolongan Allah serasa sulit digapai, Syair lagu Bimbo “Aku jauh.. Engkau jauh… Hati adalah cermin.. tempat pahala dan dosa bertarung.. “ seringkali terngiang tapi tak satupun perubahan yang saya lakukan. Saya merasa “stag”, tak bisa bergerak, tak bisa berbuat apa-apa, bahkan menangis pun tak bisa, tak ada yang bisa menyentuh perasaan terdalam padahal saya adalah seorang wanita.

“Tangis adalah senjata seorang wanita” tidak berlaku sama sekali. Hati ini terasa begitu gersang. Saya merasa ngeri dengan diri sendiri, berada di “negeri lain” dan tak menghiraukan dunia yang sudah ada. Saya tidak peduli dengan pandangan teman-teman, saya tidak peduli dengan lingkungan, tidak bisa membedakan hak dan kewajiban, mencampuradukkan benar dengan salah, dan tak ingin berpikir yang membuat lelah. Saya lelah lahir batin. Norak ya sobat ?

Bacaan-bacaan penggugah semangat juga tak mempan. Perjuangan tak kenal lelah dari Siti Khadijah dalam mendampingi Rasulullah, kesabaran Siti Hajar mencari mata air untuk puteranya ketika terdampar di Padang Pasir, ketegaran Al-Khansa mengantarkan puteranya syahid, kesetiaan para sahabat kepada Rasulullah lewat begitu saja, tak berbekas ! Nasehat demi nasehat dari orang terdekat hanya melintas di telinga untuk sekejap..

Hingga suatu hari, Allah mendatangkan seorang pemuda dari dunia penuh “kerlipan”, dunia selebritis dengan kekayaan yang bisa menggoda iman. Dia berada di puncak kejayaan. Usianya masih sangat muda. Grup band yang diusungnya menempati tiga besar di jajaran panggung hiburan Dengan tampilan bersahaja, ia datang untuk berdiskusi. … “Mba, jiwa saya gelisah, saya ragu apakah Allah ridha dengan apa yang saya perbuat saat ini ? Saya ingin mencintai-Nya seutuhnya. Tahukah mbak? tidak jarang ketika azan berkumandang, saya sedang sibuk berjingkrak-jingkrak dalam kalimat yang tak pantas. Jauh dalam hati saya menangis, ingin berontak…” Kalimat sederhana itu merobohkan semua tiang keangkuhan yang sedang meraja. Subhaanallaah…dia masih sempat ingat Allah dalam dunianya yang hingar-bingar, dia ingin disayang Allah… sementara saya menampik semua kasih sayang itu. Betapa tak bersyukurnya… Saya malu ya Allah.. benar-benar malu..

Dalam hati, saya teriak dan menangis.. hingga curhat-curhatnya yang lain tak sempat saya dengarkan dengan seksama. Saya rasakan “tamparan demi tamparan” Allah merasuk dalam hati, sejuk sekali.. Kasih sayang Allah serasa menjalar di setiap pembuluh darah.

Penyesalan selalu datang terlambat. Tiga bulan, cukup lama untuk sebuah kekecewaan dan kemalasan, cukup lama untuk tidak istiqomah dalam melaksanakan amalan sunnah, cukup lama untuk tidak khusyu shalat dan cukup lama untuk mengabaikan sesama. Tiba-tiba rasa takut menyelinap.. andaikan Allah memanggil dalam keadaan terburuk itu, sanggupkah saya menghadap-Nya ? Astaghfirullaah..

“Ya Rabb, jadikan penyesalan ku ini sebagai penyesalan terakhir. Beri aku kemampuan untuk mengerahkan semua instrument yang Kau anugerahkan sebagai kompas untuk penuntun langkah dalam setiap detak kehidupan, hingga tiada lagi penyesalan tak berguna. Ijinkan aku menitipkan cinta untuk semua makhluk yang telah Kau hadirkan tuk belajarku. Pandu aku untuk bisa selalu bermuhasabah. Ampuni aku ya Allah. Makasih telah ajari aku cintai-Mu lewat jalan yang Kau sukai”


farah_adibah@yahoo.com

Untuk orang-orang yang mencintaiku. Maafkan aku ya… Untuk guruku kecilku, bertahanlah untuk terus melangkah…


Posted at 02:03 am by djito
Make a comment

Next Page



   


<< November 2009 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
01 02 03 04 05 06 07
08 09 10 11 12 13 14
15 16 17 18 19 20 21
22 23 24 25 26 27 28
29 30





Contact Me


Yahoo Group

KMII
KMIH
-------------------------
DAARUTTAUHIID
KAISKADA


Site Builder

blogdrive